Minggu, 20 November 2011

IKHLASH mudah di BIBIR sulit di HATi (Materi Khutbah, ceramah, kultum)



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّيْنِ.
Jama’ah Rahimakumullah
Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia. Yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.
Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah semuanya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Jama’ah Rahimakumullah

Seluruh manusia akan celaka kecuali mereka yang beramal dengan ikhlas dan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Hal ini sangat terkait dengan niat seseorang dalam beramal.
Permasalahan niat adalah permasalahan yang sangat penting, berapa banyak ayat dan hadits rasulullah SAW yang menerangkan dan menggambarkan akan pentingnya niat. Disatu sisi Allah memuji orang-orang yang benar niatnya dan disatu sisi Allah mencela orang yang salah niatnya. Allah SWT berfirman:

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

Artinya:” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqon [25]:23)


Para imam-imam teradahulu sepoerti Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin hambal, Ibnu Mahdi, Ibnu Madini, Imam Abu Dawud, dan Imam Daru Quthni, mereka bersepakat bahwa niat adalah sepertiga dari ilmu. Bahkan sebagian yang lain, mengatakan seperempat dari ilmu. Imam Baihaqi memberikan suatu alasan kenapa niat termasuk sepertiga dari ilmu. Karena perbuatan manusia itu senantiasa berhubungan dengan tiga unsur:
1. Hati
2. Lisan
3. Angota tubuh
Diantara tiga hal yang ada ini, niat adalah satu yang terpenting, bahkan terkadang niat merupakan ibadah yang tersendiri dan ibadah yang lain mengikut padanya. Maka dapat dikatakan bahwa niat seorang mu’min itu lebih baik dari amalnya
Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah
Al Ikhlas secara bahasa berarti memurnikan
Kebalikan ikhlas adalah syirik maka orang yang tidak mukhlis adalah musyrik,

Dalam pengertian syare'at ikhlas berarti;
1. Memurnikan tujuan hanya kepada Allah dari setiap bentuk ketaatan
2. Amalan hati yang diperuntukkan hanya kepada Allah semata bukan untuk yang lain.
3. Melepaskan diri dari pandangan manusia (makhluk) dan senantiasa memandang Allah SWT.
4. Ikhlas adalah memurnikan maksud dan tujuan untuk taqarrub (mendekatkan) kepada Allah.

Adapun dalam Al Qur'an Allah menjelaskan;
وَمَآأُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah:5)


Sungguhnya Allah telah memuji orang-orang yang senantiasa berbuat ikhlas kepada Allah yaitu orang-orang yang meniadakan segala bentuk keinginan dan tujuan kepada selain kepada Allah. Allah berfirman;
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya:” Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al Kahfi:110)

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda; Dari Abu Hurairah;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُواَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه المسلم)

Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW. Bersabda; Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta benda kalian, akan tetapi Allah akan melihat hati dan amal kalian" (HR. Muslim).


Jama’ah Rahimakumullah
Inilah gambaran keikhlasan yang lakukan oleh para Sahabat, tabi'in dan ulama-ulama salafush shaleh.
Di kisahkan dari Abi Hamzah Ats-Tsumali berkata : Adalah Ali bin Husain memanggul karung yang berisi roti pada malam hari dan bersedekah dengannya, ia berkata “Sesungguhnya sodaqoh secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah Azza wajalla.”
Maka ketika Ali bin Husain wafat mereka memandikannya. pandangan mereka tertuju pada bakar hitam yang ada diatas punggung Ali, dan berkata : Apa ini? maka dijawab : ini adalah bekas beliau memanggul karungn yang berisi roti pada malam hari ddan memberikannya kepada para fuqoro' pernduduk madinah.
Ibnu Uyainah mengatakan: "Apabila yang tersembunyi sesuai dengan yang nampak maka itu adalh keadilan, sedang apabila yang tersembunyi itu lebih baik dari pada yang nampak maka itu adalah keutamaan, sedang apabila yang nampak lebih baik dari yang tersembunyi maka itu adalah kedurhakaan ".
Dari Abdillah bin Mubarok, ia berkata : Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad, apa yang menyebabkan pekataan salaf lebih bermanfaat dari pada perkataan kita? beliau menjawab : karena mereka berbicara untuk kemulyaan islam dan keselamatan jiwa serta keridhoan Alla Azza wajalla, sedangkan kiita berbicara untuk kemuliaan nafsu dan mencari dunia serta keridhoan manusia.



Jama’ah Rahimakumullah
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali hanya ikhlas kepadaNya.
Barangsiapa yang ikhlas niatnya dalam suatu kebenaran meskipun itu atas dirinya sediri maka Allah akan mencukupkan antara dia dan manusia. Dan barang siapa yang membaguskan amalnya (riya’) Maka Allah akan menampakkan keburukannya
Telah jelas bahwa amal yang tidak karena Allah adalah mardud (tidak diterima) sedangkan yang diperuntukkan kepada Allah adalah diterima. Lalu bagaimana jika dalam beramal seseorang kadang dicampuri dengan perbuatan riya'?
Dalam permasalahan ini ada tiga bentuk:
1. Semula dorongan pertama adalah ikhlas, kemudian timbul riya’ atau menginginkan untuk selain Allah pada pertengahan amal. Maka Perubahannya hanya terdapat dalam niat pertama. Selama belum ada keinginan yang kuat untuk ditujukan kepada selain Allah. Maka dalam hal ini hukumnya adalah terputusnya niat pada pertengahan ibadah dan batalnya niat.
2. Sebaliknya, Dorongan pertama adalah bukan karena Allah. Kemudian pada pertengahannya timbul niat ikhlas kepada Allah. Maka yang demikian amalnya yang telah berlalu tidak dihitung sedangkan amal setelah ada perubahan dalam hatinya akan dihitung.
3. Jika permulaaanya memang diperuntukkan untuk Allah dan manusia. Ia menginginkan dalam ibadahnya itu untuk membebaskan beban kewajibannya, mencari balasan (jaza’) dan terima kasih dari manusia, hal demikian seperti orang yang shalat karena upah (jika ia tidak mengambil upah ia tetap melaksanakan shalat) melaksanakan shalat karena Allah dan upah. Atau seperti orang yang melaksanakan haji dalam rangka membebaskan diri dari dari beban kewajiban haji dan untuk dikatakan fulan adalah seorang haji atau memberikan zakat dalam rangka seperti ini maka amal yang demikian tidak diterima.

Jama’ah Rahimakumullah
Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah kecuali dengan dua pokok:
1. Mengikuti Rasul SAW
2. Ikhlas hanya kepada Allah
Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:
1. Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti Rasulullah. Mereka adalah ahlu ibadah yang sebenarnya.
2. Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti Rasulullah
3. Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran
4. Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah.
Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah
Kita berharap kepada Allah agar amalan kita senantiasa kita laksanakan dengan ikhlas semata-mata untuk Allah dengan mengikuti sunah Rasul-Nya. Amien.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dikutip dari : Buku Kultum Ramadhan FKAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar