Rabu, 23 November 2011

Aku Bertanya Dalam Lintasan Hatiku


Ku pernah bertanya....

Apakah Allah melalaikan kaum yg tertindas, orng yg sakit, mereka yg tetimpa bencana?

mana keadilanMu?

mana kebesaranMu?

mana kuasaMu?

Lalu.... ku temukan jawabnya: Ia menjawab: Aku telah menciptakan Kau untuk melihat dirimu sendiri, bukankan ini keadilanKu, ini kebesaranKu, dan ini kuasaKu untuk membuatmu bersyukur kepadaKu..

(Si.Pecihitam)

3 K yang harus dimiliki Seorang Dai :
1. Konfiden : percaya diri dan bisa menepis grogi
2. Komunikatif : dapat menyampaikan materi tausiyah yang mudah dicerna mustami'
3. Konsisten : apa yang diucapkannya sesuai dengan perbuatannya sehari-hari

(Sipecihitam)

Paling cepat hilang itu waktu, dan paling cepat datang itu umur yang tua

(Sipecihitam)

Walaupun kita benci, marah dengan anak kita sendiri, namun kita tak akan rela kalau dia celaka

(Sipecihitam)

satu kebaikan yg kamu lakukan hari ini, adalah satu solusi bagi problem yg kelak kamu hadapi, dan satu dosa yg kamu lakukan hr ini, bs menjadi bibit penderitaan yg akan kamu alami. Thus,siapkan byk kebaikan, jauhi dosa dan bertaubat dr maksiat (abu umar abdillah)

الجزاء من جنس العمل

Balasan itu sesuai dengan amalan

BANYAK kawan saya yang selalu takut mengarang, maju mundur, sehingga tidak pernah mengarang mereka tidak punya keberanian, karena ingin karangannya sempurna.Mana ada di dunia ini yang sempurna (Buya Hamka)

Penulis yg tak pernah lelah, selalu ada saja yang ditulis, baik maupun buruk tak ada yang berani menyangkal... dialah DUA MALAIKAT pendamping kita..
-sipecihitam-

Siapa menanam AIR ia akan mendapat BANJIR... semua ada balasannya
-sipecihitam-

Senin, 21 November 2011

Mengapa Allah menjadikan kita BERDOSA


SEGERA BERTAUBAT, JANGAN DITUNDA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّيْنِ.

Jama’ah Rahimakumullah
Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia. Yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah semuanya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Jama’ah Rahimakumullah

Taubat berasal dari bahasa kata taba – yatubu – taubatan yang artinya al inabah yaitu kembali. Dalam pengertian Islam taubat adalah kembali dari berbagai perbuatan buruk menuju kepada sifat dan perbuatan yang baik dan terpuji.

Taubat juga dapat diartikan orang yang kembali dari perbuatan yang dilarang Allah menuju kepada perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dikarenakan takut akan adzab yang diberikan kepadanya.

Taubat menjadi kewajiban setiap orang karena keadaan mereka yang tidak terbebas dari dosa. Rasulullah sendiri yang ma’shum (senantiasa terpelihara dari dosa dan kesalahan) selalu beristigfar memohon ampun kepada Allah, sebagaimana dalam sabda beliau,

يَأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّى أَتُوْبُ فِي اْليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ (رواه مسلم)

“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, dan mohonlah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat (memohon ampun) kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim).

Ketidakma’shuman manusia menjadi rahasia dari Allah agar hamba-hamba-Nya senantiasa bertaubat kepada-Nya, memohon ampun, mengagungkan, dan hanya bergantung kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda,

لَوْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِـكُمْ وَلَجآءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُوْنَ فَيُغْفِرُ لَهُمْ (رواه مسلم)

“Seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, pastilah Allah membinasakan kalian, dan akan digantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka beristighfar dan Allah pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim).

Jama’ah Rahimakumullah

Begitulah, taubat menjadi rahasia Allah, sebagai bentuk kemurahan dan keagungan-Nya. Sebagai jalinan keterikatan hati seorang hamba kepada Allah dengan memohon, tunduk, menghinakan dan merendahkan diri semata-mata hanya kepada-Nya.

Karena itu, Allah begitu senang dan gembira terhadap orang-orang yang bertaubat. Ia senantiasa berlapang untuk menerima dan menyambutnya. Kegembiraan dan kelapangan Allah dalam menyambut orang-orang yang bertaubat melebihan kegembiraan dan kelapangan orang-orang yang bertaubat itu sendiri.

Rasulullah bersabada,

أَللهُ أَشَدَّ فَرْحَا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِيْنَ يَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلىَ رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيْسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيْسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ. فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ اْلفَرْحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَ أَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ اْلفَرْحِ (رواه البخارى)

“Sungguh Allah benar-benar lebih senang kepada taubat hamba-Nya kala ia bertaubat kepada-Nya daripada senangnya seseorang di antara kalian yang semula berada di atas kendaraannya di tanah padang pasir, lantas kendaraannya itu hilang darinya, padahal makanan dan minumannya ada di atasnya. Ia berputus asa dari mendapatkannya. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba kendaraanya berada di dekatnya, lalu ia memegang tali kendalinya seraya berkata, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku, dan akulah rabb-Mu’. Ia keliru ucapannya saking gembiranya”. (HR. Bukhari).

Seberapapun besar dosa seseorang, jika ia kembali kepada Allah dengan sepenuh hati, maka Allah akan menerimanya.

Rasulullah bersabda,

“Allah berfirman, ‘Hai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berada dan mengharap kepada-Ku, patilah Kuberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikan. Hai anak Adam, sekiranya dosa-dosamu mencapai cakrawala langit kemudian engkau mohon ampunan-Ku, niscaya Kuberikan ampunan kepadamu, dan Aku tidak mempedulikannya lagi. Hai anak Adam, sekiranya engkau menghadap-Ku dengan membawa kesalahan sebesar bumi kemudian engkau menjumpai-Ku tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, tentu Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. (HR. Tirmidzi).

Jama’ah Rahimakumullah

Adakah orang yang lebih baik dan mulia selain orang yang mengakuti dosa dan kesalahannya, kemudian ia bersegera memohon ampun kepada Allah dengan bertaubat? Ia bersimpuh di hadapan Allah, mengadu dan serasa takut akan adzab yang diberikan jika senantiasa dalam balutan dosa dan maksiat.

Allah mengajurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.Al Baqarah [2] :222)

Juga firman Allah,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha [20]: 82)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqan [25]: 71)

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda,

إنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah SWT. Membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang-orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat kepada-Nya. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang-orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat kepada-Nya. Demikian ini terus berlangsung hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari kiamat)” (HR. Muslim)

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda,

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ (رواه مسلم)

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari kiamat), maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

Allah senantiasa terbuka terhadap hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat. Mengakui dosa dan kesalahan, bersimpuh di hadapan-Nya dengan penuh ketundukan dan kepasrahan semata-mata takut akan adzab-Nya.

Allah memuji orang-orang yang bertaubat, beramal shaleh. Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan, sebagaiman firman-Nya;

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا . وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا .

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS.Thaha [ 25]: 70 – 71).

Jama’ah Rahimakumullah

Begitulah pujian Allah kepada orang yang mau bertaubat, beriman dan beramal shaleh. Karena itu Allah sangat membenci dan mengancam dengan ancaman yang keras bagi orang-orang yang sombong dengan tidak mau bertaubat kepada-Nya. Allah menyebutnya mereka termasuk orang-orang yang dhalim dan tempat tinggal mereka di neraka Jahannam.

Allah berfirman,

وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS. Al Hujurat [49]: 11)

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (naar) yang membakar.” (QS. Al Buruj [85]:

Jama’ah Rahimakumullah

Tak ada waktu untuk menunda taubat, karena sesungguhnya kita tidak mengerti kapan kematian itu datang. Taubat mesti kita lakukan saat nyawa masih bersama kita.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang senantiasa menghiasi hidup kita dengan bertaubat kepada Allah. Memohon ampun kepada-Nya seraya tunduk dan merendahkan diri hanya kepada-Nya. Amien.

أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


Dikutip dari : Buku Kultum Ramadhan FKAM

Ebook Abu Nawas Komplet

Abu Nawas memang tokoh yang luar biasa. Ia mampu mengatasi masalah nya dengan humor dan penuh teka-teki rahasia.

Anda akan terheran-heran dengan membaca kisah-kisahnya.
jika Anda ingin mendapatkan Ebook nya klik di sini :

http://www.4shared.com/document/KELnVWM9/ABUNAWAS.html

Kapan bisa Merasakan TAQWA




إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّيْنِ.
Jama’ah Rahimakumullah
Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia. Yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.
Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah semuanya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Jama’ah Rahimakumullah
Secara umum taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Imam Ahmad bin Hambal RA. berkata, “Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang diinginkani hawa nafsumu, karena takut kepada Dzat yang engkau takuti (Allah)”.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa taqwa adalah, “Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuan-Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti.”

Allah SWT. mewasiatkan taqwa kepada seluruh ummat manusia, termasuk ummat Rasulullah SAW.
Allah SWT. menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan serta ajaran dalam satu wasiat yaitu Taqwa.

Jama’ah Rahimakumullah
Suatu ketika Rasulullah SAW. berwasiat mengenai taqwa. Diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah SAW. shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati orang-orang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat terakhir, karena itu nasihatilah kami”. Lalu Nabi bersabda:
أَوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
“Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa di antara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan berwaspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Ahmad).

Jama’ah Rahimakumullah
Sabda Rasulullah SAW., “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati”, Ibnu Rajab berkata, bahwa kedua kata itu yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Taqwa juga merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya:
يَابَنِى ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ ءَايَاتِ اللهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al A’raf [7]: 26)
Allah Ta'ala menganugerahkan kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan pokok, sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat lahir maupun batin sekaligus memperindahnya, yaitu berupa pakaian at-taqwa.
Qasim bin Malik meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.

Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ

”….Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al Baqarah [2]: 197)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat yaitu taqwa.

Jama’ah Rahimakumullah
Banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut, di antaranya:

1. Mahabbatullah (mencintai Allah)
2. Muraqabatullah (merasakan adanya pengawasan Allah)
3. Menjauhi penyakit hati
4. Menundukkan hawa nafsu
5. Mewaspadai tipu daya syaitan
• Mahabbatullah
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadapNya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”.
• Merasakan adanya pengawasan Allah.
Allah SWT. berfirman:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَاكُنتُمْ وَاللهُ بِمَاتَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid [57]: 4).

Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan di mana saja kamu berada. Di darat ataupun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berada dalam ilmu-Nya, Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, di mana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang kamu fikirkan”.
• Menjauhi penyakit hati

Di dunia ini tidak ada yang namanya kejahatan dan bencana besar, kecuali penyebabnya adalah perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Adapun penyebab dosa itu teramat banyak sekali, di antaranya penyakit hati, penyakit yang cukup kronis, yang menimpa banyak manusia, seperti dengki, yang tidak senang kebahagiaan menghinggap kepada orang lain, atau ghibah yang selalu membicarakan aib orang lain, dan satu penyakit yang tidak akan diampuni oleh Allah yaitu Syirik. Oleh karena itu mari kita berlindung kepada Allah SWT. dari penyakit itu semua.
• Menundukkan hawa nafsu
Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan sebagai tanda adanya nilai takwa dalam diri kita. Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى .
Dan adapun orang-orang yangtakut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya). (QS. An Nazi’at [79] :41)
• Mewaspadai tipu daya syaithan
Ssyaithan menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah. Ibnul Qoyyim Al Jauziyah menjelaskan cara syetan untuk menghalangi manusia, diantaranya; pertama adalah kufur, jikalau seseorang selamat dari kekufuran, maka syaithan menggunakan caranya yang kedua yaitu berupa bid’ah, jika selamat pula maka ia menggunakan cara yang ketiga yaitu dengan dosa-dosa besar, jika masih tak berhasil dengan cara ini ia menggoda dengan perbuatan mubah, sehingga manusia menyibukkan dirinya dalam perkara ini, jika tidak mampu juga maka syaithan akan menyerahkan bala tentaranya untuk menimbulkan berbagai macam gangguan dan cobaan silih berganti.
Jama’ah Rahimakumullah
Mudah-mudahan kita senantiasa menghiasi dan membekali kehidupan kita dengan bertaqwa kepada Allah, sehingga taqwa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sampai kelak datangnya hari kiamat. Amien.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Dikutip dari : Buku Kultum Ramadhan FKAM

Minggu, 20 November 2011

IKHLASH mudah di BIBIR sulit di HATi (Materi Khutbah, ceramah, kultum)



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّيْنِ.
Jama’ah Rahimakumullah
Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia. Yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.
Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah semuanya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Jama’ah Rahimakumullah

Seluruh manusia akan celaka kecuali mereka yang beramal dengan ikhlas dan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Hal ini sangat terkait dengan niat seseorang dalam beramal.
Permasalahan niat adalah permasalahan yang sangat penting, berapa banyak ayat dan hadits rasulullah SAW yang menerangkan dan menggambarkan akan pentingnya niat. Disatu sisi Allah memuji orang-orang yang benar niatnya dan disatu sisi Allah mencela orang yang salah niatnya. Allah SWT berfirman:

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

Artinya:” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqon [25]:23)


Para imam-imam teradahulu sepoerti Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin hambal, Ibnu Mahdi, Ibnu Madini, Imam Abu Dawud, dan Imam Daru Quthni, mereka bersepakat bahwa niat adalah sepertiga dari ilmu. Bahkan sebagian yang lain, mengatakan seperempat dari ilmu. Imam Baihaqi memberikan suatu alasan kenapa niat termasuk sepertiga dari ilmu. Karena perbuatan manusia itu senantiasa berhubungan dengan tiga unsur:
1. Hati
2. Lisan
3. Angota tubuh
Diantara tiga hal yang ada ini, niat adalah satu yang terpenting, bahkan terkadang niat merupakan ibadah yang tersendiri dan ibadah yang lain mengikut padanya. Maka dapat dikatakan bahwa niat seorang mu’min itu lebih baik dari amalnya
Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah
Al Ikhlas secara bahasa berarti memurnikan
Kebalikan ikhlas adalah syirik maka orang yang tidak mukhlis adalah musyrik,

Dalam pengertian syare'at ikhlas berarti;
1. Memurnikan tujuan hanya kepada Allah dari setiap bentuk ketaatan
2. Amalan hati yang diperuntukkan hanya kepada Allah semata bukan untuk yang lain.
3. Melepaskan diri dari pandangan manusia (makhluk) dan senantiasa memandang Allah SWT.
4. Ikhlas adalah memurnikan maksud dan tujuan untuk taqarrub (mendekatkan) kepada Allah.

Adapun dalam Al Qur'an Allah menjelaskan;
وَمَآأُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah:5)


Sungguhnya Allah telah memuji orang-orang yang senantiasa berbuat ikhlas kepada Allah yaitu orang-orang yang meniadakan segala bentuk keinginan dan tujuan kepada selain kepada Allah. Allah berfirman;
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya:” Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al Kahfi:110)

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda; Dari Abu Hurairah;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُواَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه المسلم)

Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW. Bersabda; Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta benda kalian, akan tetapi Allah akan melihat hati dan amal kalian" (HR. Muslim).


Jama’ah Rahimakumullah
Inilah gambaran keikhlasan yang lakukan oleh para Sahabat, tabi'in dan ulama-ulama salafush shaleh.
Di kisahkan dari Abi Hamzah Ats-Tsumali berkata : Adalah Ali bin Husain memanggul karung yang berisi roti pada malam hari dan bersedekah dengannya, ia berkata “Sesungguhnya sodaqoh secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah Azza wajalla.”
Maka ketika Ali bin Husain wafat mereka memandikannya. pandangan mereka tertuju pada bakar hitam yang ada diatas punggung Ali, dan berkata : Apa ini? maka dijawab : ini adalah bekas beliau memanggul karungn yang berisi roti pada malam hari ddan memberikannya kepada para fuqoro' pernduduk madinah.
Ibnu Uyainah mengatakan: "Apabila yang tersembunyi sesuai dengan yang nampak maka itu adalh keadilan, sedang apabila yang tersembunyi itu lebih baik dari pada yang nampak maka itu adalah keutamaan, sedang apabila yang nampak lebih baik dari yang tersembunyi maka itu adalah kedurhakaan ".
Dari Abdillah bin Mubarok, ia berkata : Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad, apa yang menyebabkan pekataan salaf lebih bermanfaat dari pada perkataan kita? beliau menjawab : karena mereka berbicara untuk kemulyaan islam dan keselamatan jiwa serta keridhoan Alla Azza wajalla, sedangkan kiita berbicara untuk kemuliaan nafsu dan mencari dunia serta keridhoan manusia.



Jama’ah Rahimakumullah
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali hanya ikhlas kepadaNya.
Barangsiapa yang ikhlas niatnya dalam suatu kebenaran meskipun itu atas dirinya sediri maka Allah akan mencukupkan antara dia dan manusia. Dan barang siapa yang membaguskan amalnya (riya’) Maka Allah akan menampakkan keburukannya
Telah jelas bahwa amal yang tidak karena Allah adalah mardud (tidak diterima) sedangkan yang diperuntukkan kepada Allah adalah diterima. Lalu bagaimana jika dalam beramal seseorang kadang dicampuri dengan perbuatan riya'?
Dalam permasalahan ini ada tiga bentuk:
1. Semula dorongan pertama adalah ikhlas, kemudian timbul riya’ atau menginginkan untuk selain Allah pada pertengahan amal. Maka Perubahannya hanya terdapat dalam niat pertama. Selama belum ada keinginan yang kuat untuk ditujukan kepada selain Allah. Maka dalam hal ini hukumnya adalah terputusnya niat pada pertengahan ibadah dan batalnya niat.
2. Sebaliknya, Dorongan pertama adalah bukan karena Allah. Kemudian pada pertengahannya timbul niat ikhlas kepada Allah. Maka yang demikian amalnya yang telah berlalu tidak dihitung sedangkan amal setelah ada perubahan dalam hatinya akan dihitung.
3. Jika permulaaanya memang diperuntukkan untuk Allah dan manusia. Ia menginginkan dalam ibadahnya itu untuk membebaskan beban kewajibannya, mencari balasan (jaza’) dan terima kasih dari manusia, hal demikian seperti orang yang shalat karena upah (jika ia tidak mengambil upah ia tetap melaksanakan shalat) melaksanakan shalat karena Allah dan upah. Atau seperti orang yang melaksanakan haji dalam rangka membebaskan diri dari dari beban kewajiban haji dan untuk dikatakan fulan adalah seorang haji atau memberikan zakat dalam rangka seperti ini maka amal yang demikian tidak diterima.

Jama’ah Rahimakumullah
Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah kecuali dengan dua pokok:
1. Mengikuti Rasul SAW
2. Ikhlas hanya kepada Allah
Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:
1. Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti Rasulullah. Mereka adalah ahlu ibadah yang sebenarnya.
2. Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti Rasulullah
3. Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran
4. Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah.
Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah
Kita berharap kepada Allah agar amalan kita senantiasa kita laksanakan dengan ikhlas semata-mata untuk Allah dengan mengikuti sunah Rasul-Nya. Amien.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dikutip dari : Buku Kultum Ramadhan FKAM

Sabtu, 19 November 2011

Dosa dan Tragedi Gelas Pecah

Kita bisa bayangkan kalau sebuah gelas yang kita miliki retak kemudian pecah. Entah karena kesengajaan atau tidak kita sengaja. Lalu kita diamkan dan tidak kita bersihkan. Kita berlalu pergi meninggalkan pecahan-pecahan itu yang berserakan.
Mungkin bukan kita sendiri yang akan terkena imbas dari pecahan gelas itu. Bisa jadi anak, istri, saudara, tetangga bahkan kucing kita bisa menginjaknya. Akibatnya, luka yang parah akan mengakibatkan penyakit baru, tetanus, atau infeksi akut yang lainnya.Atau bila ia membersihkan dengan asal-asalan semaunya sendiri, dia buang ditempat sampah sembarangan, bisa mengakibatkan bahaya bagi tukang sampah.
Sobat ku tercinta…
Sama seperti bila kita berbuat dosa. Kita diamkan dosa menjalin dan memintal dalam lembar kehidupan kita. Dosa berserakan dimana-mana Mungkin hari ini kita tidak merasakan akibat dari dosa kita. Boleh jadi anak dan istri serta saudara kita yang terkena bencana. Tetapi saya yakin, ujung-ujungnya akan membuat kita sengsara.
Mari kita bersihkan dosa kita, bagai kita membersihkan pecahan gelas dengan bersihnya.
Semoga Allah Azza wa Jalla membimbing kita semua. Amin

Taufik Ariyanto (Si Peci Hitam)